Mengutip Berita UNAS, Jakarta (UNAS) – Universitas Nasional (UNAS) melalui Pusat Pengelolaan Hutan dan Hidupan Liar bersama Program Studi Magister Biologi menyelenggarakan Talkshow Nasional bertajuk “Konektivitas Metapopulasi Orangutan: Apakah Jembatan Kanopi Buatan adalah Solusi Inovatif?” di Auditorium Universitas Nasional, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara luring dan daring tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Orang Utan Sedunia yang jatuh setiap 19 Agustus.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama UNAS, Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt. Dalam sambutannya, Prof. Ernawati menekankan bahwa isu yang diangkat dalam talkshow bukan sekadar menarik untuk dibahas, tetapi memiliki arti penting bagi keberlangsungan mata rantai ekosistem dan keseimbangan lingkungan.
“Tema kegiatan ini bukan hanya bagus, tetapi juga penting bagi keberlangsungan mata rantai ekosistem. Orang utan merupakan fauna yang hidup di Indonesia. Sudah semestinya kita menjaga keberlangsungannya untuk menjaga keberlangsungan lingkungan di alam liar. Terlebih, 19 Agustus diperingati sebagai Hari Orang Utan Sedunia,” ujar Prof. Ernawati.
Talkshow tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, lembaga konservasi, dan publik untuk membahas ancaman fragmentasi habitat terhadap orang utan dan satwa arboreal lainnya. Fragmentasi habitat menyebabkan kawasan yang sebelumnya terhubung menjadi terpisah sehingga membatasi pergerakan satwa, mengurangi akses terhadap sumber pakan, serta berpotensi mengganggu keberlangsungan populasi dalam jangka panjang.
Media brief kegiatan mencatat bahwa populasi orang utan Sumatra (Pongo abelii) diperkirakan tersisa 11.694 individu yang tersebar dalam delapan metapopulasi di Aceh dan Sumatra Utara. Sementara itu, populasi orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) berada dalam kondisi lebih kritis dengan jumlah sekitar 716 individu yang terbagi dalam tiga metapopulasi di Batang Toru. Di Kalimantan, habitat orang utan juga menghadapi tekanan akibat fragmentasi yang disebabkan oleh aktivitas perkebunan, pertambangan, dan kawasan hutan produksi.
Salah satu pendekatan yang dibahas dalam talkshow adalah pembangunan koridor ekologis dan jembatan kanopi buatan (artificial arboreal bridge) untuk menghubungkan kembali habitat yang terfragmentasi. Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Folia Primatologica pada 2022, jembatan kanopi buatan telah digunakan oleh orang utan Tapanuli, owa, siamang, lutung Sumatra, dan satwa arboreal lainnya. Pemanfaatannya juga telah dikonfirmasi melalui sejumlah studi di Sumatra Utara, Aceh, Kalimantan, dan Pulau Bintan.
Meski demikian, jembatan kanopi tidak dapat diposisikan sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi fragmentasi habitat. Aspek desain, pemilihan material, keselamatan satwa, lokasi pemasangan, pemeliharaan, pemantauan penggunaan, serta dukungan kebijakan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Perlindungan habitat alami dan pemulihan konektivitas ekologis tetap menjadi fondasi utama dalam strategi konservasi orang utan.
Direktur Pusat Studi Pengelolaan Hutan dan Hidupan Liar UNAS, Didik Prasetyo, Ph.D., menyampaikan bahwa penyelamatan satwa perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih luas, tidak hanya melalui perlindungan kawasan inti.
“Penyelamatan satwa tidak cukup hanya melalui perlindungan kawasan inti, tetapi harus mencakup pemulihan konektivitas antarhabitat melalui koridor ekologis yang didukung oleh pembangunan jembatan kanopi pada area yang tidak memungkinkan lagi untuk dihubungkan secara alami,” jelasnya.
Sejumlah lembaga konservasi yang terlibat dalam kegiatan juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis lanskap. Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), misalnya, menilai bahwa fragmentasi habitat tidak hanya mengurangi luas kawasan hidup satwa, tetapi juga memutus konektivitas pergerakan populasi dan aliran genetik. Karena itu, perlindungan habitat tersisa, pencegahan fragmentasi baru, pengelolaan, dan pemulihan konektivitas alami perlu menjadi bagian utama strategi konservasi.
Sementara itu, WWF Indonesia menekankan bahwa koridor ekologis diperlukan untuk mendukung pergerakan dan keberlangsungan populasi satwa liar pada lanskap yang terfragmentasi. Keberadaan koridor juga perlu didukung kebijakan pada berbagai tingkatan dan melibatkan kepatuhan seluruh pemangku kepentingan.
Talkshow menghadirkan Budi Mulyanto, S.Pd., M.Si., selaku Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan Republik Indonesia sebagai pembicara utama. Selain itu, kegiatan menghadirkan perwakilan WWF Indonesia, Yayasan Ekosistem Lestari, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari, Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa, Yayasan Konservasi Indonesia, Javan Wildlife Institute, dan Borneo Orangutan Survival Foundation sebagai narasumber.
Melalui kegiatan tersebut, UNAS mendorong peningkatan pemahaman publik mengenai hubungan antara fragmentasi habitat dan risiko penurunan metapopulasi orang utan. Talkshow juga diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk mengintegrasikan koridor orang utan ke dalam perencanaan pembangunan nasional serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan lembaga konservasi.
Pembahasan mengenai konektivitas habitat menjadi bagian penting dari upaya konservasi orang utan karena keberlangsungan spesies tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan ekosistem. Melalui penguatan kolaborasi dan pemanfaatan pendekatan berbasis bukti, upaya konservasi diharapkan tidak hanya melindungi populasi orang utan, tetapi juga menjaga fungsi ekologis hutan sebagai habitat berbagai jenis satwa liar di Indonesia. (AAP)