fbp unas

Profil Fakultas

Tentang Fakultas Biologi dan Pertanian (FBP)

Pada Desember 2022, Fakultas Biologi dan Fakultas Pertanian pada 2022 digabung menjadi Fakultas Biologi dan Pertanian (FBP). Program studi yang ada yaitu Biologi, Magister Biologi, dan Agroteknologi yang diintegrasikan pada Fakultas Biologi dan Fakultas Pertanian. Program Studi Biologi mengembangkan arah pendidikan program studi Biologi menjadi 3 konsentrasi studi, yaitu Biologi Konservasi dan Lingkungan, Biologi Industri, dan Biologi Medis (Biomedic). Program Studi Sarjana Agroteknologi berfokus pada pengembangan pertanian berkelanjutan (Sustainable farming). Program Studi Magister Biologi memiliki 2 konsentrasi studi, yakni Biodiversitas Masyarakat dan Konservasi Alam dan Lingkungan. Upaya ini dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman terutama dalam dunia pengetahuan alam.  Ketiga program studi ini berorientasi pada upaya mendukung program yang dicangangkan perguruan tinggi terutama dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). 

Fakultas, sebagai unsur pelaksana akademik di bawah tanggung jawab Rektor, memiliki struktur organisasi yang terdiri dari beberapa entitas. Fakultas memiliki fungsi utama, yaitu unit pengelola program studi (UPPS) yang mengoordinasikan dan melaksanakan pendidikan dalam satu atau beberapa bidang ilmu tertentu. Sebagai pendukung program studi, fakultas mengoordinasikan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PkM) dan mengharmonisasikan segala bentuk kerja sama riset dan kerja sama lokal, nasional maupun global. 

FBP telah melakukan kerja sama global dengan para peneliti kelas dunia selama lebih dari 30 tahun.

Dalam posisi ini, FBP berkontribusi dalam menerima pengakuan sebagai perguruan tinggi swasta terbaik sebagai mitra kerja penelitian internasional Kemenristekdikti se-Indonesia. Untuk itu, FBP menyediakan dan mendukung strategi Tridharma Perguruan Tinggi dengan melakukan harmonisasi Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi (VMTS) yang fokus pada rencana dan strategi (Renstra) UNAS secara menyeluruh. 

LIHAT JUGA

Visiting Professor 
Alumni Gemilang

Roadmap Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Menunjang Capaian SDGs

Skema payung penelitian Fakultas Biologi dan Pertanian dirancang dengan filosofi yang kuat dan visioner, menempatkan KONSERVASI sebagai inti tunggal yang menjadi jantung seluruh aktivitas penelitian fakultas yang didukung oleh kekuatan sumber daya manusia dengan berbagai fokus riset sains biologi dan keberlanjutan yang mempunyai latar belakang multidimensi ilmu pengetahuan.

Pemilihan konservasi sebagai sentrum bukanlah kebetulan, melainkan refleksi mendalam dari tagline fakultas sebagai “Pionir Eksplorasi Biodiversitas,” sekaligus merupakan respons strategis terhadap tantangan global terkait krisis keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan ketahanan pangan.

Cakupan penelitian yang menjangkau ekosistem daratan dan perairan menunjukkan bahwa fakultas tidak hanya berkontribusi pada satu dimensi pembangunan berkelanjutan, melainkan menjawab spektrum luas dari agenda global SDGs. Pemetaan eksplisit terhadap SDGs dalam roadmap ini akan menjadi modal kuat, dan juga menjadi kontribusi nyata fakultas dalam pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan global.

Pilar pertama, Pemanfaatan dan Keanekaragaman Hayati, mencerminkan komitmen fakultas untuk tidak hanya melestarikan biodiversitas, tetapi juga mengeksplorasi nilai manfaatnya secara berkelanjutan. Topik penelitian yang dikembangkan dalam pilar ini meliputi eksplorasi bahan alam, tumbuhan obat, jamur makro, ayam lokal, dan lebah. Pilar ini menempatkan fakultas pada posisi strategis dalam bioprospeksi nasional, di mana kekayaan hayati Indonesia dieksplorasi nilai ekonomis dan medisnya tanpa mengorbankan kelestariannya.

Pilar kedua, Religius dan Kearifan Lokal, menjadi pembeda yang sangat kuat dan menunjukkan karakter unik fakultas di antara institusi sejenis. Penelitian dalam pilar ini diarahkan pada tiga area utama, yaitu religius dalam perubahan iklim, etnofarmakologi, dan kearifan lokal. Pendekatan ini menjawab kebutuhan akan integrasi nilai-nilai spiritual dan kultural dalam diskursus sains modern. Penelitian etnofarmakologi misalnya, akan menggali pengetahuan pengobatan tradisional masyarakat lokal yang berpotensi divalidasi secara ilmiah dan dikembangkan menjadi produk farmasi modern. Sementara kajian religius dalam perubahan iklim menunjukkan kepekaan akademik terhadap peran agama sebagai motor penggerak kesadaran ekologis, sebuah dimensi yang sering terabaikan dalam riset lingkungan konvensional.

Pilar ketiga, Konservasi dan Keanekaragaman, merupakan pilar paling komprehensif dalam cakupan taksonomis. Pilar ini mencakup penelitian terhadap tumbuhan dengan fokus khusus pada Pandanaceae dan tanaman buah endemik, biota perairan, mamalia, avifauna, herpetofauna, kupu-kupu, hingga primata. Khusus untuk primata, penelitian dikembangkan dalam empat dimensi yaitu ekologi, perilaku, nutrisi, dan kesehatan, menunjukkan kedalaman kajian yang multidisipliner dan integratif. Pilar ini memposisikan fakultas sebagai pusat unggulan biodiversitas yang mengkaji spesies dari berbagai tingkatan trofik dan habitat, mulai dari ekosistem perairan hingga kanopi hutan tropis.

Pilar keempat, Peningkatan Produksi Pertanian Berkelanjutan, mengarahkan riset pada aspek aplikatif untuk ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan, dan hilirisasi produk pertanian, didukung oleh penelitian pendukung berupa kultur jaringan, pertanian organik, dan kualitas tanah. Pilar ini merupakan jembatan penting antara riset dasar dengan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat, sekaligus menunjukkan komitmen fakultas terhadap hilirisasi hasil penelitian sebagaimana didorong dalam kebijakan akreditasi terkini dan agenda pembangunan nasional yang termasuk dalam asta cita yang menempatkan kemandirian pangan, energi sebagai pilar utama Pembangunan nasional.

Roadmap penelitian ini memiliki relevansi yang sangat tinggi dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

SDG 2 (Tanpa Kelaparan) menjadi target yang paling langsung disasar oleh pilar Peningkatan Produksi Pertanian Berkelanjutan, di mana penelitian ketahanan pangan, pertanian organik, kultur jaringan untuk perbanyakan varietas unggul, dan hilirisasi produk pertanian secara langsung berkontribusi pada upaya mengakhiri kelaparan dan mewujudkan ketahanan pangan nasional.

SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan) terhubung kuat dengan penelitian tumbuhan obat, etnofarmakologi, dan bahan alam, di mana pengembangan obat berbasis kearifan lokal berpotensi menghasilkan terapi yang terjangkau dan kontekstual bagi masyarakat Indonesia.

SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) memiliki keterkaitan yang signifikan dengan roadmap ini, terutama melalui pilar Religius dan Kearifan Lokal serta pilar Konservasi dan Keanekaragaman. Penelitian kearifan lokal berkontribusi pada pelestarian warisan budaya dan natural sebagaimana ditargetkan dalam SDG 11.4, sementara kajian konservasi biodiversitas mendukung terciptanya komunitas yang berkelanjutan melalui pemeliharaan ruang hijau dan ekosistem pendukung kehidupan perkotaan maupun perdesaan. Kajian avifauna, kupu-kupu, dan tumbuhan endemik misalnya, dapat menjadi dasar pengembangan kawasan konservasi terintegrasi dengan tata ruang wilayah yang inklusif dan resilien terhadap bencana. Lebih jauh, integrasi nilai religius dan kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan dapat memperkuat ketahanan komunitas dalam menghadapi tantangan urbanisasi dan perubahan iklim, sehingga membangun masyarakat yang tidak hanya berkelanjutan secara ekologis tetapi juga secara sosial dan kultural.

SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) disasar melalui penelitian religius dalam perubahan iklim serta seluruh kajian konservasi yang berkontribusi pada mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui pelestarian ekosistem penyerap karbon. Penelitian kualitas tanah dan pertanian berkelanjutan juga berkontribusi pada upaya sequestrasi karbon di sektor agraria, sementara kajian dimensi religius dalam perubahan iklim membuka jalan bagi pendekatan adaptasi berbasis nilai yang dapat menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.

SDG 14 (Ekosistem Lautan atau Life Below Water) menjadi salah satu target sentral yang disasar secara langsung oleh roadmap ini, terutama melalui pilar Konservasi dan Keanekaragaman dengan fokus pada penelitian biota perairan. Kajian biota perairan mencakup studi terhadap keanekaragaman hayati di ekosistem akuatik, baik perairan tawar, payau, maupun laut, yang berkontribusi pada perlindungan dan pemulihan ekosistem perairan sebagaimana diamanatkan dalam target SDG 14.2. Penelitian ini berpotensi menghasilkan basis data ilmiah untuk konservasi spesies akuatik terancam, identifikasi indikator kesehatan ekosistem perairan, serta strategi pengelolaan berkelanjutan sumber daya perairan.

SDG 15 (Ekosistem Daratan atau Life on Land) merupakan target yang paling komprehensif disasar oleh roadmap penelitian ini, mengingat mayoritas kajian dalam pilar Konservasi dan Keanekaragaman berorientasi pada ekosistem daratan. Penelitian tumbuhan dengan fokus pada Pandanaceae dan tanaman buah endemik secara langsung berkontribusi pada perlindungan flora endemik dan pencegahan kepunahan spesies tumbuhan sebagaimana ditargetkan dalam SDG 15.5. Kajian mamalia, avifauna, herpetofauna, kupu-kupu, dan primata mencerminkan pendekatan konservasi multitaksa yang holistik, mencakup berbagai tingkatan trofik dalam ekosistem terestrial. Penelitian primata dengan empat dimensi ekologi, perilaku, nutrisi, dan kesehatan menjadi modal akademik yang sangat penting mengingat Indonesia merupakan habitat banyak spesies primata endemik dan terancam punah, sehingga riset ini berkontribusi langsung pada SDG 15.7 terkait penghentian perburuan dan perdagangan satwa liar yang dilindungi. Kajian herpetofauna dan kupu-kupu sebagai bioindikator kesehatan ekosistem mendukung target SDG 15.1 mengenai konservasi ekosistem darat dan air tawar, sementara penelitian avifauna berkontribusi pada pemeliharaan layanan ekosistem seperti penyebaran biji dan pengendalian hama alami.

SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab) terhubung dengan pertanian berkelanjutan, pertanian organik, dan pemanfaatan biodiversitas yang lestari, menunjukkan model produksi yang tidak eksploitatif terhadap sumber daya alam. SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) secara implisit didukung melalui penelitian kearifan lokal yang melestarikan pengetahuan tradisional sebagai bagian dari pendidikan kontekstual, serta membuka peluang kolaborasi multisektor antara akademisi, pemerintah, masyarakat adat, dan dunia industri.

Peta Jalan Pengabdian kepada Masyarakat dan SDGs

Skema payung pengabdian kepada masyarakat (PkM) Fakultas Biologi dan Pertanian dirancang sebagai perwujudan nyata dari tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada hilirisasi keilmuan untuk kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana roadmap penelitian, skema PkM ini juga menempatkan KONSERVASI sebagai inti tunggal yang menjadi spirit dan filosofi penggerak seluruh aktivitas pengabdian fakultas. Selaras dengan tagline fakultas sebagai “Pionir Eksplorasi Biodiversitas,” roadmap PkM ini memastikan bahwa eksplorasi keilmuan biologi dan pertanian membawa manfaat konkret bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, terutama komunitas yang berada di sekitar kawasan konservasi dan sentra pertanian.

Dari inti konservasi tersebut, terjabar tiga pilar payung pengabdian yang saling melengkapi dan membentuk pendekatan holistik dalam pemberdayaan masyarakat, yaitu Peningkatan Wawasan Kemanusiaan, Peningkatan Keterampilan Kerja bagi Masyarakat, dan Peningkatan Pendapatan Alternatif. Ketiga pilar ini mencerminkan strategi pengabdian yang komprehensif, mulai dari aspek edukasi dan penyadaran, peningkatan kapasitas teknis, hingga pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

Roadmap pengabdian masyarakat ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, dan secara konsisten menyasar SDGs yang sama dengan roadmap penelitian sehingga menunjukkan integrasi yang kuat antara dharma penelitian dan pengabdian di lingkungan fakultas.

SDG 2 (Kesehatan dan Kesejahteraan) terhubung erat dengan program penyuluhan penyakit pada pilar Peningkatan Wawasan Kemanusiaan dan budidaya tanaman obat pada pilar Peningkatan Pendapatan Alternatif. Penyuluhan penyakit berkontribusi pada peningkatan literasi kesehatan dan pencegahan penyakit di tingkat komunitas, sementara budidaya tanaman obat tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi juga membuka akses masyarakat terhadap pengobatan herbal yang terjangkau dan berbasis kearifan lokal. Hal ini sejalan dengan target SDG 3.8 mengenai universal health coverage dan akses terhadap obat-obatan yang terjangkau.

SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan) terhubung erat dengan program penyuluhan penyakit pada pilar Peningkatan Wawasan Kemanusiaan dan budidaya tanaman obat pada pilar Peningkatan Pendapatan Alternatif. Penyuluhan penyakit berkontribusi pada peningkatan literasi kesehatan dan pencegahan penyakit di tingkat komunitas, sementara budidaya tanaman obat tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi juga membuka akses masyarakat terhadap pengobatan herbal yang terjangkau dan berbasis kearifan lokal. Hal ini sejalan dengan target SDG 3.8 mengenai universal health coverage dan akses terhadap obat-obatan yang terjangkau.

SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) secara mendasar didukung oleh seluruh program dalam pilar Peningkatan Wawasan Kemanusiaan, terutama pengenalan biologi, konservasi lingkungan, dan edukasi pertanian. Pilar Peningkatan Keterampilan Kerja melalui program pelatihan juga berkontribusi pada SDG 4.4 yang menargetkan peningkatan jumlah pemuda dan orang dewasa yang memiliki keterampilan relevan untuk pekerjaan, kewirausahaan, dan pekerjaan yang layak. Roadmap PkM ini memposisikan fakultas sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) bagi masyarakat di luar lingkup formal kampus.

SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) disasar secara komprehensif melalui pilar Peningkatan Pendapatan Alternatif dan pilar Peningkatan Keterampilan Kerja bagi Masyarakat. Program budidaya jamur, hidroponik, vertikultur, tanaman obat, pembuatan pupuk, dan hilirisasi produk pertanian menciptakan peluang kewirausahaan baru bagi masyarakat, sejalan dengan target SDG 8.3 mengenai promosi kebijakan pembangunan yang mendukung kegiatan produktif dan kewirausahaan. Pelatihan dan penyediaan sarana memperkuat kapasitas tenaga kerja lokal, mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif yang berakar pada potensi sumber daya lokal.

SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) memiliki keterkaitan yang signifikan terutama melalui program pertanian organik dan perkotaan, budidaya hidroponik dan vertikultur, serta penyuluhan konservasi lingkungan. Program-program ini mendukung pengembangan komunitas yang berkelanjutan baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan, sejalan dengan target SDG 11.7 mengenai akses universal terhadap ruang publik hijau dan SDG 11.a mengenai dukungan hubungan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang positif antara wilayah perkotaan, pinggiran kota, dan perdesaan. Pertanian perkotaan secara khusus menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan ketahanan pangan kota sekaligus menghijaukan kawasan urban.

SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab) terhubung dengan program pertanian organik, pembuatan pupuk, dan hilirisasi produk pertanian. Program-program ini mempromosikan model produksi berkelanjutan yang mengurangi limbah, memanfaatkan sumber daya lokal secara efisien, dan menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Hilirisasi produk pertanian mendukung target SDG 12.3 mengenai pengurangan limbah pangan dan SDG 12.5 mengenai pengurangan limbah secara substansial melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali.

SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) disasar melalui program penyuluhan konservasi lingkungan, pertanian organik, pertanian presisi, dan pembuatan pupuk organik. Pertanian presisi mendukung adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim melalui penggunaan sumber daya yang lebih efisien, sementara pembuatan pupuk organik dan pertanian organik berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian. Penyuluhan konservasi lingkungan membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim, sejalan dengan target SDG 13.3.

SDG 14 (Ekosistem Lautan) dapat disasar secara tidak langsung melalui program penyuluhan konservasi lingkungan, terutama bagi masyarakat pesisir, serta melalui pertanian organik dan pembuatan pupuk yang mengurangi pencemaran perairan akibat run-off bahan kimia pertanian. Pengurangan penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis berkontribusi pada perlindungan ekosistem perairan dari eutrofikasi dan polusi, sejalan dengan target SDG 14.1 mengenai pencegahan dan pengurangan pencemaran laut secara signifikan.

SDG 15 (Ekosistem Daratan) menjadi target yang sangat sentral dalam roadmap PkM ini, mengingat seluruh pilar berakar pada filosofi konservasi. Program penyuluhan konservasi lingkungan secara langsung mendukung target SDG 15.5 mengenai pengurangan degradasi habitat alami dan pencegahan kepunahan spesies. Budidaya tanaman obat dan jamur sebagai alternatif mata pencaharian membantu mengurangi tekanan ekstraksi terhadap sumber daya hutan, sejalan dengan SDG 15.7 mengenai penghentian perburuan dan perdagangan spesies tumbuhan dan hewan yang dilindungi. Pertanian organik dan pembuatan pupuk organik mendukung SDG 15.3 mengenai pencegahan degradasi lahan dan pemulihan tanah terdegradasi. Pilar Peningkatan Pendapatan Alternatif secara strategis menyediakan opsi ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi sehingga mereka tidak bergantung pada eksploitasi sumber daya hutan.

SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) secara implisit mendukung seluruh roadmap PkM ini, mengingat program pengabdian masyarakat pada hakikatnya merupakan kemitraan antara akademisi dengan masyarakat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan organisasi non-pemerintah. Roadmap ini membuka peluang kolaborasi multisektor yang luas untuk mengakselerasi pencapaian SDGs di tingkat lokal.

Roadmap pengabdian kepada masyarakat Fakultas Biologi dan Pertanian ini memiliki kekuatan strategis yang luar biasa karena tidak hanya selaras dengan roadmap penelitian, tetapi juga menyediakan jalur konkret bagi hilirisasi hasil-hasil riset untuk kemanfaatan masyarakat luas. Integrasi tiga pilar pengabdian yaitu peningkatan wawasan, peningkatan keterampilan, dan peningkatan pendapatan alternatif mencerminkan pendekatan pemberdayaan yang komprehensif, yang tidak hanya mengubah cara berpikir masyarakat tetapi juga memberikan keterampilan dan peluang ekonomi nyata.