fbp unas

Riset Tiger And Spirituality: Apakah Generasi Muda Memiliki Kesadaran Hidup Harmonis Dengan Harimau?

Video, Kearifan Adat, dan Spiritualitas untuk Memperkuat Koeksistensi Manusia–Harimau

JAKARTA – Universitas Nasional (UNAS) kembali memperkuat kontribusinya dalam pengembangan pendekatan konservasi harimau berbasis ilmu pengetahuan, budaya, dan spiritualitas melalui publikasi terbaru berjudul “Testing Video as an Awareness Tool: Does Urban Youth Care for Customary Practice in Avoiding Tiger Conflict?” yang diterbitkan dalam Jurnal Manajemen Hutan Tropika (JMHT), Vol. 32 No. 4 Tahun 2026.

Artikel tersebut ditulis oleh tim kolaboratif yang melibatkan peneliti Fakultas Biologi dan Pertanian (FBP) UNAS, Pusat Pengajian Islam (PPI) UNAS, Universitas Andalas, BRIN, WWF Indonesia, dan UIN Imam Bonjol Padang. Penelitian ini menguji penggunaan video sebagai media peningkatan kesadaran generasi muda terhadap pengetahuan ekologis tradisional dan praktik adat masyarakat Minangkabau dalam membangun hubungan yang lebih harmonis dengan harimau Sumatra.

Dengan pendekatan mixed methods dan video elicitation, penelitian berangkat dari dokumentasi praktik dan pengetahuan masyarakat adat di Nagari Sarik Alahan Tigo, Sumatra Barat. Video mengenai praktik hidup berdampingan dengan harimau kemudian digunakan sebagai media edukasi dalam seminar. Mayoritas responden penelitian merupakan kelompok usia muda, dan hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman setelah menyaksikan video. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa pengetahuan positif tentang cara menghadapi dan hidup berdampingan dengan satwa liar dapat diperluas melampaui komunitas adat dan kelompok etnis asalnya kepada segmen masyarakat yang lebih luas.

Publikasi ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang riset Dr. Fachruddin M. Mangunjaya dan jaringan kolaboratornya mengenai toleransi manusia terhadap harimau Sumatra. Salah satu tonggak pentingnya adalah penelitian internasional “Addressing Human-Tiger Conflict Using Socio-Ecological Information on Tolerance and Risk” yang diterbitkan dalam Nature Communications pada tahun 2018. Studi tersebut menunjukkan bahwa toleransi masyarakat terhadap harimau dipengaruhi oleh kombinasi faktor sosial, ekologis, sikap, norma, emosi, serta keyakinan spiritual. Integrasi informasi sosial dan ekologis memberikan dasar yang lebih kuat untuk memprioritaskan intervensi dalam mengurangi konflik manusia–harimau.

LIHAT JUGA: Living alongside Inyiak

Arah riset tersebut juga berkembang melalui berbagai studi tentang “Tolerating Tigers”, yang menggali perspektif lokal dan spiritual masyarakat Sumatra dalam memahami hubungan manusia dengan harimau. Pendekatan ini menempatkan harimau bukan semata-mata sebagai satwa liar atau sumber risiko, tetapi juga sebagai bagian dari lanskap budaya, sejarah, dan sistem nilai masyarakat. Dalam konteks masyarakat Minangkabau, harimau yang dikenal sebagai Inyiak memiliki kedudukan khusus dalam berbagai narasi budaya dan hubungan masyarakat dengan alam.

Upacara pemberian makan telur pada harimau, tanda kekerabatan

Pengembangan pendekatan tersebut kemudian diperkuat melalui kerja sama dengan WWF dan jejaring Sacred Tigers. Program “Living alongside Inyiak” mendokumentasikan suara dan pengalaman masyarakat di Sumatra Barat yang hidup di lanskap harimau. Kajian kolaboratif yang dipimpin Dr. Fachruddin Mangunjaya menyoroti hubungan spiritual dan budaya yang mendalam antara masyarakat lokal dan harimau Sumatra. Pendekatan ini menegaskan pentingnya memasukkan suara, pengetahuan, hak, serta nilai masyarakat lokal ke dalam strategi konservasi modern.

Sebagaimana ditegaskan dalam inisiatif “Hidup Harmonis dengan Alam Berbasis Agama, Budaya dan Kearifan Lokal”, Indonesia memiliki modalitas penting berupa kekayaan agama, spiritualitas, adat, dan budaya yang dapat berkontribusi pada perlindungan keanekaragaman hayati. Dalam konteks konservasi harimau, nilai-nilai tersebut dapat menjadi kekuatan sosial untuk membangun toleransi, memperkuat koeksistensi, dan menghubungkan pengetahuan tradisional dengan strategi konservasi kontemporer.

Publikasi terbaru di JMHT sekaligus menandai perluasan tahap implementasi roadmap Tiger and Spirituality. Jika riset-riset sebelumnya berfokus pada pemahaman faktor yang membentuk toleransi dan hubungan sosial-spiritual manusia dengan harimau, penelitian ini bergerak lebih jauh dengan menguji bagaimana pengetahuan tersebut dapat dikomunikasikan secara efektif kepada generasi muda melalui media visual.

Rujukan dan Sumber

| Berita Terbaru