Mengutip berita UNAS – Jakarta (Humas UNAS) – Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional (UNAS) menyelenggarakan rangkaian kegiatan akademik bertema “Sains, Kearifan Lokal, dan Masa Depan Keberlanjutan” melalui Kunjungan Akademik dan Studi Lapangan yang berlangsung selama dua hari berturut-turut, Jumat–Sabtu (30–31 Januari 2026) di Provinsi Banten.
Adapun rombongan yang ikut dalam kegiatan ini yaitu, Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian Dr. Fachruddin Majeri Mangunjaya, M.Si., Dosen Prof. Dr. Retno Widowati, M.Si. dan Dr. Mortaza A Syafinuddin Hammada serta 22 Mahasiswa Magister Biologi lintas Angkatan.
Pada Jumat, 30 Januari 2026, mahasiswa dan dosen Program Studi Magister Biologi UNAS melaksanakan Kunjungan Akademik ke Pusat Penelitian Pengembangan dan Penerapan Bioteknologi (P4B) MIGO, Serang, Banten, dengan tema “Aplikasi Bioteknologi dalam Bioekonomi”. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran berbasis praktik, khususnya pada mata kuliah bioekonomi dan bioteknologi terapan.
Kegiatan kunjungan akademik dibuka dengan sambutan Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian UNAS, Dr. Fachruddin M. Mangunjaya, M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa konsep bioekonomi menuntut integrasi antara ilmu biologi, ekologi, dan ekonomi dalam satu kesatuan sistem pembangunan berkelanjutan.
“Kata kunci bioekonomi itu ada ekonomi, ada ekologi, dan ada biologi. Biologi adalah makhluk hidup sebagai berkah dan karunia yang seharusnya kita syukuri dan kelola dengan baik,” ujar Fachruddin dalam sambutannya. Ia menambahkan bahwa penerapan biologi tidak berhenti pada ranah laboratorium, tetapi harus mampu memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
Lebih lanjut, Fachruddin menyampaikan bahwa kunjungan ke P4B MIGO memberikan gambaran konkret kepada mahasiswa mengenai bagaimana ilmu biologi dapat diterjemahkan menjadi inovasi bernilai ekonomi. Menurutnya, praktik bioteknologi yang dikembangkan di P4B MIGO menunjukkan bahwa biologi memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kewirausahaan berbasis sains.
“Ini adalah contoh nyata biologi yang diterapkan untuk memajukan pertanian. Biologi tidak harus identik dengan kemiskinan, tetapi justru bisa melahirkan entrepreneur jika dikelola dengan ide dan inovasi,” tuturnya. Ia juga berharap kegiatan ini dapat membuka peluang kerja sama riset dan pengembangan antara UNAS dan P4B MIGO di masa mendatang.
Dalam sesi utama, Prof. Dr. Ir. Ali Zum Mashar, penemu teknologi Mikroba Google dan Bioperforasi, memaparkan secara komprehensif tentang pengembangan dan penerapan bioteknologi dalam mendukung bioekonomi. Ia menjelaskan bahwa teknologi Mikroba Google merupakan inovasi yang mengintegrasikan berbagai jenis mikroba dalam satu sistem untuk menjalankan fungsi yang lebih kompleks dan efisien.




“Mikroba Google ini ibarat mesin pencari. Ia bekerja mencari nutrisi di dalam tanah melalui berbagai fungsi mikroba yang digabungkan dalam satu wadah,” jelas Prof. Ali. Ia juga memaparkan bagaimana riset bioteknologi dapat dikembangkan dari tahap awal hingga hilirisasi produk yang siap dipasarkan.
Menurut Prof. Ali, penguasaan paten dan pengembangan industri berbasis bioteknologi menjadi faktor penting dalam membangun kemandirian bioekonomi nasional. Ia menekankan bahwa inovasi bioteknologi memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesuburan tanah, efisiensi pertanian, serta mendukung ketahanan pangan secara berkelanjutan.
Selain pemaparan materi, mahasiswa juga diajak untuk melihat langsung proses budidaya pengembangan benih kedelai MIGO serta berdiskusi mengenai tantangan dan peluang pengembangan bioteknologi di Indonesia. Kegiatan ini memberikan pemahaman nyata mengenai hubungan antara riset ilmiah, inovasi teknologi, dan aspek ekonomi dalam sektor pertanian modern.
Selanjutnya, pada Sabtu, 31 Januari 2026, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Studi Lapangan ke Masyarakat Adat Suku Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, dengan tema “Implementasi Etika Lingkungan dalam Sistem Sosial Tradisional”. Studi lapangan ini bertujuan untuk memperkaya perspektif mahasiswa mengenai praktik keberlanjutan yang hidup dan dijaga secara turun-temurun dalam masyarakat adat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa mempelajari secara langsung kepada tokoh adat baduy bagaimana masyarakat Suku Baduy menerapkan nilai-nilai etika lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pengelolaan hutan, pertanian tradisional, serta pola konsumsi yang selaras dengan alam. Sistem sosial tradisional Baduy dipahami sebagai contoh konkret penerapan prinsip keberlanjutan yang tidak berbasis teknologi modern, namun efektif menjaga keseimbangan ekosistem.
Secara akademik, studi lapangan ini memberikan pemahaman bahwa konsep keberlanjutan tidak hanya lahir dari sains modern, tetapi juga berakar kuat pada kearifan lokal. Mahasiswa diajak untuk merefleksikan keterkaitan antara ilmu biologi, etika lingkungan, dan sistem nilai budaya dalam membangun masa depan pembangunan berkelanjutan.
Melalui rangkaian Kunjungan Akademik dan Studi Lapangan ini, Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan yang integratif, menghubungkan sains modern dengan kearifan lokal, serta membekali mahasiswa dengan perspektif holistik mengenai masa depan keberlanjutan. (*Dimas Wijaksono)
Sumber berita UNAS : Integrasikan Sains, Bioteknologi, dan Kearifan Lokal, Magister Biologi Laksanakan Kunjungan Akademik dan Studi Lapangan