fbp unas

Dari Ruang Kuliah ke Lapangan, Pesan Dekan FBP UNAS tentang Masa Depan Bioekonomi Berkelanjutan

Mengutip Berita UNAS – Jakarta (Humas UNAS) – Langkah kaki para mahasiswa Magister Biologi Universitas Nasional (UNAS) menyusuri area Pusat Penelitian Pengembangan dan Penerapan Bioteknologi (P4B) MIGO di Serang, Banten, Jumat (30/1/2026), menjadi lebih dari sekadar kunjungan akademik. Di tempat inilah, teori yang selama ini mereka pelajari di ruang kelas bertemu langsung dengan praktik nyata bioteknologi yang hidup dan bekerja di lapangan.

Kunjungan akademik yang mengusung tema besar “Sains, Kearifan Lokal, dan Masa Depan Keberlanjutan” ini memfokuskan pembelajaran pada “Aplikasi Bioteknologi dalam Bioekonomi”. Sebuah tema yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga erat kaitannya dengan tantangan lingkungan dan ketahanan pangan masa depan.

Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian (FBP) UNAS Dr. Fachruddin Majeri Mangunjaya, M.Si. menegaskan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang sebagai jembatan antara teori dan implementasi. Selama ini, mahasiswa telah mendapatkan mata kuliah bioekonomi dan lingkungan hidup secara konseptual. Namun menurutnya, pemahaman yang utuh baru terbentuk ketika mahasiswa melihat secara langsung bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata.

“Mata kuliah bioekonomi sudah diberikan secara teori di kelas, tetapi implementasi, best practice, maupun model bisnisnya itu ada di sini,” ujar Dekan FBP di sela-sela kegiatan.

Di P4B MIGO, mahasiswa diperkenalkan pada penerapan bioteknologi berbasis mikroba yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan riset, tetapi juga memberikan manfaat ekologis dan ekonomi. Mikroba unggulan yang dikembangkan di pusat penelitian ini mampu memperbaiki ekosistem hara tanah, menyuburkan lahan yang sebelumnya kurang produktif, serta menciptakan habitat yang lebih baik bagi pertumbuhan tanaman.

Bagi Fachruddin, pengalaman langsung seperti ini penting agar mahasiswa memahami bahwa bioteknologi bukan sekadar inovasi di laboratorium, melainkan solusi nyata atas persoalan lingkungan dan pangan.

“Ini adalah penerapan mikroba yang mampu menyuburkan tanah-tanah yang tadinya tidak baik, kemudian menjadi ekosistem yang membantu kebaikan habitat,” jelasnya.

Tak hanya soal ekologi, kunjungan ini juga membuka wawasan mahasiswa tentang perjalanan panjang sebuah riset hingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Mulai dari pengembangan penelitian, perlindungan hak kekayaan intelektual melalui paten, hingga bagaimana hasil riset dapat dihilirisasikan dan bernilai ekonomi.

Dekan FBP menekankan bahwa riset tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah semata. Riset harus mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi, termasuk mendukung penguatan ketahanan pangan nasional.

“Mahasiswa perlu belajar bagaimana mengembangkan riset, bagaimana riset itu menjadi paten, dan bagaimana paten tersebut bisa bermanfaat untuk banyak orang, khususnya dalam pengembangan ketahanan pangan,” tutur Fachruddin.

Selain itu, mahasiswa juga diperlihatkan berbagai bibit unggul hasil rekayasa bioteknologi yang telah diaplikasikan dalam kegiatan produktif. Keberadaan bibit-bibit unggul ini menjadi gambaran konkret bagaimana konsep bioekonomi dijalankan secara optimal tanpa mengabaikan prinsip keberlanjutan.

Bagi Dekan FBP, seluruh rangkaian kunjungan akademik ini diharapkan menjadi pengalaman bermakna bagi mahasiswa. Ia berharap, apa yang dipelajari di lapangan mampu menumbuhkan kesadaran sekaligus motivasi untuk memanfaatkan sumber daya alam Indonesia secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

“Mudah-mudahan ini menjadi buah yang bermanfaat bagi mahasiswa untuk melakukan upaya-upaya produktif dalam memanfaatkan sumber daya alam kita secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Pengalaman yang mengesankan dirasakan langsung oleh mahasiswa Magister Biologi Universitas Nasional selama kunjungan berlangsung. Salah satu mahasiswi, Eka Widiyastuti, mengungkapkan bahwa kunjungan ke P4B MIGO memberikan banyak wawasan baru terkait penerapan bioteknologi, khususnya dalam pengembangan tanaman pangan dan pupuk organik.

Menurut Eka, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis, tetapi juga melihat langsung berbagai aplikasi bioteknologi yang telah dikembangkan, mulai dari rekayasa tanaman padi dan jagung hingga pemanfaatan pupuk organik berbasis mikroba.

“Di sini kami banyak mendapatkan pengetahuan tentang bioteknologi. Kami mendapat materi mengenai pengembangan padi, jagung, serta pupuk organik. Kunjungan ini sangat menambah wawasan kami,” ujar Eka mahasiswi S2 angkatan 2024.

Ia menambahkan, melalui kegiatan ini mahasiswa didorong untuk berpikir lebih jauh mengenai peran mereka di masa depan, khususnya dalam mendukung pengembangan bioteknologi yang berkelanjutan.

“Diharapkan dari kunjungan ini kami dapat menambah pengetahuan dan berpikir ke depan, sehingga sebagai mahasiswa Magister Biologi kami bisa turut mendukung pengembangan bioteknologi yang lebih maju,” katanya

Kegiatan kunjungan akademik ini juga menampilkan berbagai bibit unggul hasil rekayasa bioteknologi yang menjadi contoh nyata penerapan bioekonomi secara berkelanjutan. Melalui pembelajaran langsung di lapangan, mahasiswa diajak memahami keterkaitan antara sains, lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Magister Biologi UNAS kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi ilmuwan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap realitas lapangan serta siap berkontribusi bagi masa depan keberlanjutan melalui perpaduan sains dan kearifan lokal. (*Dimas Wijaksono)

 

Sumber Berita UNAS: Dari Ruang Kuliah ke Lapangan, Pesan Dekan FBP UNAS tentang Masa Depan Bioekonomi Berkelanjutan